7 Istilah KPR Yang Penting Untuk Diketahui Calon Nasabah

7 Istilah KPR Yang Penting Untuk Diketahui Calon Nasabah

Sumber : https://blog.urbanindo.com/2017/11/7-istilah-kpr-yang-penting-untuk-diketahui-calon-nasabah/

Penulis :  Last updated Nov 22, 2017

Saat mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR) untuk pertama kalinya, banyak hal yang mungkin membuat debitur bingung. Bukan hanya alur, hal simpel seperti istilah KPR yang kerap digunakan pun bahkan begitu asing. Supaya semuanya berjalan lancar, ayo cari tahu istilah-istilah tersebut di bawah ini!

1. Down Payment

Perlu di ketahui, bank tidak memberikan pinjaman kepada nasabah 100% dari total harga rumah melainkan hanya sekitar 75% – 85% saja.

Nah, sisa uang tersebut harus debitur siapkan sendiri sebagai uang muka pembelian. Istilah tersebut pun sering disebut sebagai down payment (DP).

DP ini akan debitur bayarkan ketika bank telah mengabulkan permohonan pinjaman.

Umumnya, pengaju wajib melunasi uang tersebut dalam jangka waktu yang telah ditentukan setelah akad KPR ditandangani kedua belah pihak.

2. BI Checking

Bank tempat mengajukan KPR akan melakukan pemeriksaan kondisi keuangan calon debiturnya.

Proses ini dinamakan BI checking karena data laporan keuangan tersebut terpusat di Bank Indonesia (BI).

Bila debitur memiliki tunggakan utang yang belum terbayarkan, semuanya akan diketahui oleh bank, lho!

3. Appraisal

Proses pengajuan KPR dimulai dari pemasukan aplikasi ke bank dan BI checking.

Setelah itu, pihak bank akan melakukan appraisal pada rumah yang akan dibeli oleh debitur KPR.

Apa sih arti dari istilah KPR yang satu ini? Appraisal merupakan proses penaksiran harga rumah.

Hal ini dilakukan bank untuk menilai kesesuain harga yang diajukan oleh calon debitur.

Selain itu, appraisal pun dilaksanakan sebagai bahan pertimbangan untukmengukur kemampuan kredit sang calon debitur.

Bila semuanya sesuai, maka debitur pun bisa mendapatkan pinjaman tersebut.

4. Akad

Bukan, ini bukan akad seperti dalam sebuah pernikahan, Urbanites!

Istilah akad pada proses pengajuan KPR mengacu pada dilakukannya perjanjian kredit antara debitur dengan pihak.

Di dalam akad tersebut, kedua belah pihak akan menandatangani surat yang berisikan hak serta kewajiban.

5. Balik Nama

Setelah debitur melakukan penandatanganan akad kredit, maka notaris yang telah ditunjuk akan mengurus dua di antaranya, akta jual beli (AJB) dan juga balik nama.

Istilah KPR “balik nama” berarti mengganti nama pemilik lama di dalam sertifikat hak milik (SHM) dengan pemilik baru.

6. AJB

Akta jual beli (AJB) merupakan dokumen bukti peralihan hak atas tanah dari penjual, dalam hal ini bank pada pembeli.

Dokumen ini sah di mata hukum karena dibuat oleh notaris atau pejabat pembuat akta tanah (PPAT) yang telah ditunjuk.

7. Plafon Kredit & Tenor

Saat pembahasan perjanjian akad kredit, istilah berupa plafon kredit serta tenor akan kerap terucap dari pihak bank.

Plafon kredit sendiri memiliki arti besarnya pinjaman yang akan diberikan untuk membeli rumah pada debitur.

Sementara itu, tenor berarti jangka waktu pelunasan cicilan yang telah ditetapkan.

Semoga istilah KPR di atas bermanfaat untuk Anda sekalian.